Sesekali aku memikirkan tentang apa yang telah terjadi.
Ingatan itu seperti membekas di hati bahkan fikiran. Tentang apa yang pernah
aku lakukan sebelumnya. Aku memang tidak pernah menyesal tentang hal tersebut,
karena aku percaya hal itu telah melalui takdir yang sudah di tulis. Tapi
ingatan tersebut memaksaku untuk membenci hembusan angin, karena ia lah aku
sering mengenangnya. Dia yang aku ingat tidak pernah salah, karena takdir lah
yang memaksa kita untuk pernah dekat dan menghabiskan waktu bersama. Tetapi
kata pernah dekat itu lah yang membuat aku sangat membencinya.
Aku pernah sedikit berharap pada masa
lalu, aku berharap tentang apa yang telah ku lakukan di masa itu bisa terjadi
kepadaku. Tapi aku merasa seperti aku berharap pada bintang bahwa sewaktu-waktu
ia akan jatuh tepat ke pelukanku. Bukankah harapan itu akan membuatku merasa
kesepian? Karena aku selalu memikirkan tentang apa yang terjadi dulu. Sesekali
ingin ku coba tuk berharap pada keadaan nanti, tapi aku menyerah karena harapan
dahulu.
Terkadang aku merasa sakit ketika ingatan
tersebut datang, tapi saat itu datang (lagi), waktu tak mengizinkanku untuk
mengingatnya walau sesaat, hingga akhirnya aku tak ingat persis kejadiannya.
Aku tak bisa mengingatnya karena yang ku tahu, dia yang ingin kuingat telah
bahagia dalam hidupnya. Sakit. Namun hal tersebut tak membuat aku terisak
karena kesakitan itu. Kenyataannya aku sudah bisa menerima tentang apa yang
telah terjadi. Karena sekarang aku telah menerima sesuatu yang aku fikir, aku
pantas menerimanya. Yang aku sayangkan itu bukan darinya, melainkan orang lain
yang tak pernah ku fikirkan selama ini.
Mulai sekarang dan seterusnya, aku tak ingin mengingat ataupun
menyesal tentang apa yang telah terjadi. Karena aku percaya pada suatu
kalimat yang akan menjadikan baik kedepannya :
Tetaplah menjadi baik, karena bisa jadi kau akan ditemukan orang baik, ataupun menemukan orang baik.
Juli, 2017





