Lagi dan lagi aku memecahkan sebuah prinsip yang ada di pikiranku. Aku merelakan prinsipku, karena sebuah alasan, dan aku tak tahu pasti itu apa. Sebuah prinsip, bahwa aku tidak bisa menjalin hubungan yang memiliki jarak, yang bahkan jauh sekali. Hubungan yang di maksud bukan hanya hubungan dalam kategori sempit alias pacaran, melainkan hubungan dalam kategori luas, yaitu pertemanan. Memang sih, sebelumnya aku sudah mulai menyamarkan prinsipku. Ku biarkan ia tersamar oleh embun pagi, ya yang sewaktu-waktu bisa kuhapus sendiri kabut embun tersebut untuk menguatkan kembali hidupku.
Prinsipku terbentuk karena aku adalah seseorang yang takut ditinggalkan. Orang terdekat saja, bisa jadi pergi tanpa pamit. Orang yang paling dekat saja, bisa jadi termakan maut tanpa tanda. Apalagi mereka, yang aku kenal hanya melalui medsos. Tapi, dengan berjalannya waktu, aku mulai mengikhlaskan, mulai memahami, sesuatu yang memang harusnya pergi, maka biarkan ia pergi.
Saat itu, aku mulai memberanikan diri, mengosongkan pemikiran-pemikiran bahkan ketakutan-ketakutan yang ada. Ku biarkan semua rasa itu tidak muncul, bahkan sampai dengan saat ini. Ia yang aku kenal, meyakinkanku bahwa prinsipku adalah sesuatu yang kurang tepat. Ia menjelaskan padaku tentang sebuah masa. Sebuah masa yang pasti akan tiba saatnya, bahwa hari ini bukanlah hari kemarin. Bahwa cerita hari ini, tidaklah sama dengan cerita yang akan datang.
Sekali lagi, aku tidak berharap banyak tentang hubungan yang memiliki jarak ini.
Tapi... satu yang pasti, aku telah belajar banyak, banyak sekali. Mulai dari menahan perasaan yang akan berujung keegoisan, menahan emosi yang akan berujung perpisahan (lagi), dan menahan untuk tidak perhatian lebih yang akan berujung ketidaknyamanan. Tetapi, sesekali aku akan menunjukkan bahwa aku mengapresiasi untuk apa yang telah terjadi, menunjukkan rasa terima kasih untuk apa yang telah mengubahku untuk saat ini.






0 komentar:
Posting Komentar