Akhir-akhir ini aku mulai sadar.
Ternyata penyakitku semakin parah. Kukembalikan kepingan memori-memori yang ada
pada ingatanku, dan pertanyaan yang sering datang dan memenuhi kepalaku adalah
kapankah penyakit ini muncul. September 2016, mungkin ini adalah jawabannya.
Tugas akhir atau sering disebut dengan skripsi, adalah faktor pertama
penyakitku muncul. Ide-ide dalam menulis karya ilmiah atau tugas ini memkasa
otakku berkembang, berfikir terus menerus tanpa jeda. “jika ku tambahkan ini,
akan menjadi apa ya?” “ah... apa harus kutambahkan ini, terus efeknya gimana
ya?”. Rencana A, penyelesaian A, Rencana B, penyelesaian B dan seterusnya
selalu muncul di kepalaku. Kufikir aku adalah orang yang jenius. Bisa membuat
rencana-rencana kedepan yang akan membuat salah satu perusahaan berkembang dan
maju dari ide-ide cemerlangku. Ah, ternyata cuma khayalanku.
Setelah aku lulus, penyakitku
bertambah parah. Setiap hari memikirkan apa yang akan aku lakukan selanjutnya.
Dan yang kulakukan hanyalah berfikir terus menerus tanpa ada hasil. Suatu hari,
kutemukan sebuah platform yang membuatku sangat berbahagia. Bisa mengenal
seseorang dan mendiskusikan ideku dan idenya dalam suatu obrolan. Sampai suatu
waktu, aku meminta tolong untuk disembuhkan tanpa berbicara ingin disembuhkan, tapi
herannya, ia memahami permintaanku.
Penyakit ini, bukanlah penyakit yang serius yang perlu dibawa ke dokter atau dirawat inap. Tetapi, kalo terus menerus begini, ini bakal sangat parah dan menganggu fisik. Padahal sebelumnya yang sakit bukan fisik. Seiringnya waktu, penyakit ini mulai sembuh, jarang kambuh. Dan semua ini, karena ia. Apakah obat adalah panggilan yang tepat untuknya? iya.. untuknya yang berhasil menyamarkan penyakit ini.






0 komentar:
Posting Komentar