Sabtu, 28 Oktober 2017

Aku bagaikan ...

Sempat tersadar, ini bukan salah mereka yang pergi. Aku bagaikan landak dan kaktus, yang berusaha melindungi diri dengan cara melukai yang lain, yang ingin mendekatiku. Aku sedang berusaha melepaskan duriku, satu persatu, biarkan aku yang terluka. Terkadang luka itu membuatku marah, dan tanpa sadar membuat kalian semakin menjauh.

Terkadang sempat terfikir olehku mengapa landak dan kaktus memilikinya? Sesuatu yang membuat mereka berbeda dari yang lainnya?  Bukankah hal tersebut membuat mereka menakutkan untuk di dekati? Banyak pertanyaan terlintas difikiranku, seakan mereka adalah aku. Aku membayangkan aku adalah mereka. Mungkin mereka akan mati apabila melepaskan sesuatu yang sudah menjadi haknya, lantas bagaimana denganku? Aku bukanlah mereka, tapi  seolah-olah aku membayangkan bahwa mereka adalah aku.

Aku menyembunyikan diri layaknya mereka, dan yang tersisa adalah kesepian. Tak ada yang berani mendekatiku, bahkan melihatku mereka enggan. Tak ada yang berani mendekatiku,  bahkan membantuku melepaskan duri itu, mereka hanya pergi dan menjauh, apalagi ketika duri itu semakin menjadi-jadi. Bukan kah hal itu akan membuatku kesepian? Seandainya aku benar mereka, aku akan merasa beruntung menjadi mereka yang tak memiliki perasaan, yang tak memiliki fikiran, untuk apa yang akan terjadi kedepan. Seandainya aku benar mereka, aku  akan benar-benar merasa beruntung hanya hidup untuk dirinya sendiri. Tapi aku tercipta dengan tujuan yang berbeda dari mereka, bukan kah itu akan membuatku merasa kesepian?


Apakah itu inginku untuk hidup seperti mereka? Aku ingin belajar hidup yang berbeda dari mereka, yang membuat  kalian tak pergi menjauh bahkan memalingkan wajah dari ku. Apakah itu perasaanku saja? Aku hanyalah seseorang yang sensitif, bahkan perasaanku mudah tersentuh, dan hatiku mudah menangis, tapi aku tak ingin kalian tahu, bahwa aku selemah itu, aku menciptakan duri layaknya mereka (landak dan kaktus) untuk menutupi kekuranganku, dan duri itu akan semakin menjadi-jadi apabila kalian membayangi dengan duri lain, tetapi duri itu akan jatuh satu-persatu pabila kalian mendekatiku dengan hangat, dan mencoba memahami  duriku.
Share:

Minggu, 01 Oktober 2017

arti mereka

yeah saya rindu menulis.
Jadi hari ini aku ingin menulis tentang sesuatu yang ingin aku tuliskan.
Bukan sesuatu cerita yang menarik. Bukan sesuatu cerita yang informatif.

Dapat di katakan gambaran diri. Atau sesuatu yang dapat membuat saya melangkah sejauh ini.
Sekarang, yah sekarang aku dapat melangkah sejauh ini karena mereka. Mereka yang membuat aku belajar tentang bagaimana cara melangkah sampai dengan berlari.

Dahulu sampai sekarang aku bukanlah siapa-siapa. Dan karena merekalah, aku menjadi aku yang akhirnya kukenali. Mereka, siapakah mereka? Mereka yang selalu siap mengingatkan di kala ku telah  berlari kencang dan mereka mengingatkan ku bahwa sakitnya jatuh karena kencangnya berlari. Mereka, siapakah mereka? Mereka yang selalu siap mendengarkan kegilaanku di saat aku bosan hidup normal. Mereka, siapakah mereka? Mereka bukan hanya satu, tetapi banyak. Mereka bukanlah dia atau kamu, karena mereka adalah mereka. Mereka, siapakah mereka? Mereka tidak bisa digambarkan dengan kata-kata atau wujud yang nyata, karena mereka banyak.

Mungkin aku terlalu berlebihan menilai mereka, tetapi aku yakin bahwa mereka adalah anugerah yang Allah swt titipkan untukku, untuk mengenali siapakah aku. Mereka adalah orang-orang yang pernah datang dan ada dalam perjalanan hidupku, entah sebentar ataupun sampai sekarang. Mereka datang lalu pergi, kemudian datang lagi. Tapi, mereka datang dan pergi dengan caranya masing-masing. Tapi, mereka datang dan pergi dengan tugasnya masing-masing.

Pada hari ini aku ingin mengatakan bahwa aku sangat bersyukur mengenal mereka. Tak ada yang membuatku menyesal, karena telah mengenal mereka. Mereka masing-masing memberikan ku pengalaman, mereka masing-masing memberikan ku pelajaran, yang mungkin tidak aku dapatkan dengan cara belajar di bangku sekolahan. Entah mereka yang umurnya sama denganku, entah mereka yang umurnya di atasku, ataupun mereka yang umurnya dibawahku. Sekali lagi aku ingin mengatakan bahwa aku sangat berterima kasih karena mau berada di perjalanan hidupku, dan membuatku mengenali siapa diriku. Entah bagaimanapun caranya mereka melakukan itu, sebagian mereka mengajariku dengan sebuah perhatian yang tak terduga yaitu dengan mereka yang selalu mendukungku, mendengarkan keluh kesahku ataupun dengan mereka yang selalu menyemangatiku. Sebagian mereka mengajariku dengan sebuah sikap yang tak terduga yaitu dengan tidak terlalu memperdulikan ataupun menganggapku ada di antara mereka. Tapi semua yang mereka lakukan sangat berarti untuk hidupku sejauh ini. Dan semoga dalam kehidupanku selanjutnya aku bisa bertemu dengan mereka yang lain, yang akan lebih membuatku belajar tentang bagaimana menjalani hidup, tentang bagaimana aku dapat mengubah diriku menjadi lebih baik atau apapun itu.

Yang ingin aku ingat dalam kehidupanku, dan dapat menjadikannya sebuah hikmah atau pelajaran yang berharga adalah ...

Tak apa jika orang-orang dalam hidupmu hanya datang lalu pergi, dan kemudian datang lagi. Karena setiap orang yang ditempatkan dalam kehidupanmu tidak ada yang tak sengaja. Mereka mempunyai porsinya masing-masing untuk mengajarimu sesuatu, entah itu tentang pelajaran hidup ataupun tentang bagaimana caranya untuk hidup.
Share:

Selasa, 22 Agustus 2017

....

Sesekali aku memikirkan tentang apa yang telah terjadi. Ingatan itu seperti membekas di hati bahkan fikiran. Tentang apa yang pernah aku lakukan sebelumnya. Aku memang tidak pernah menyesal tentang hal tersebut, karena aku percaya hal itu telah melalui takdir yang sudah di tulis. Tapi ingatan tersebut memaksaku untuk membenci hembusan angin, karena ia lah aku sering mengenangnya. Dia yang aku ingat tidak pernah salah, karena takdir lah yang memaksa kita untuk pernah dekat dan menghabiskan waktu bersama. Tetapi kata pernah dekat itu lah yang membuat aku sangat membencinya.

Aku pernah sedikit berharap pada masa lalu, aku berharap tentang apa yang telah ku lakukan di masa itu bisa terjadi kepadaku. Tapi aku merasa seperti aku berharap pada bintang bahwa sewaktu-waktu ia akan jatuh tepat ke pelukanku. Bukankah harapan itu akan membuatku merasa kesepian? Karena aku selalu memikirkan tentang apa yang terjadi dulu. Sesekali ingin ku coba tuk berharap pada keadaan nanti, tapi aku menyerah karena harapan dahulu.

Terkadang aku merasa sakit ketika ingatan tersebut datang, tapi saat itu datang (lagi), waktu tak mengizinkanku untuk mengingatnya walau sesaat, hingga akhirnya aku tak ingat persis kejadiannya. Aku tak bisa mengingatnya karena yang ku tahu, dia yang ingin kuingat telah bahagia dalam hidupnya. Sakit. Namun hal tersebut tak membuat aku terisak karena kesakitan itu. Kenyataannya aku sudah bisa menerima tentang apa yang telah terjadi. Karena sekarang aku telah menerima sesuatu yang aku fikir, aku pantas menerimanya. Yang aku sayangkan itu bukan darinya, melainkan orang lain yang tak pernah ku fikirkan selama ini.

Mulai sekarang dan seterusnya, aku tak ingin mengingat ataupun menyesal tentang apa yang telah terjadi. Karena aku percaya pada suatu  kalimat yang akan menjadikan baik kedepannya :

Tetaplah menjadi baik, karena bisa jadi kau akan ditemukan orang baik, ataupun menemukan orang baik.
 

Juli, 2017
Share:

Puan Elusif

Jangan tanya aku siapa. Aku bukanlah seseorang yang jago dalam menulis. Aku hanya seseorang yang ingin menulis, karena itu adalah hobiku.