Kamis, 13 Agustus 2020

Iklan (arti sebuah nama)

Sebelum lanjut menulis mengenai kata obat, sebuah kata yang terselip dalam akhir tulisan kemarin. Kata yang memiliki makna yang luar biasa, tetapi aku tak ingin melebih-lebihkan, untuk mengungkapkan bahwa ia "malaikat baik".

Pada tulisan kali ini, aku akan membahas perihal sebuah nama yang kupilih, lalu kujadikan sebagai user/identitas blogku. Jadi begini ceritanya. 2015-2016, masa dimana aku mulai menemukan kembali seseorang yang membuat hatiku bingung dan ragu. Mengartikan ia, sosoknya, serta perannya. Tapi ya sudahlah (aku tak ingin membahas itu di tulisan kali ini). Jadi suatu waktu ia pernah mengatakan padaku, bahwa aku seperti seseorang yang misterius, punya banyak rahasia, dan susah di tebak. Sebuah pernyataan yang membuatku berfikir "apakah aku benar, orang yang seperti itu". Dan dari pernyataan itu jugalah membuatku ingin debut sebagai penulis anonim dengan karakter seperti itu.

Setelah pernyataan itu diungkapkan, aku mulai mencari dan terus mencari, suatu kata yang menggambarkan pernyataan tadi. Aku mencari sebuah nama dengan banyak makna dan karakter. Aku mencoba mencari pada sistem kbbi. Dan aku akhirnya bertemu ia, yaitu elusif (elu-sif). Sebuah kata sifat dan sangat benar-benar menggambarkan pernyataan itu yaitu aku. 

Hai ini aku Puan Elusif (memiliki cita-cita sebagai seorang penulis, karena fikiran yang dipenuhi berbagai macam peran, dan cerita-cerita menarik). Dan semoga melalui blog ini, aku bisa mengapai mimpiku, melalui hobiku, maupun pengalamanku.

Share:

Selasa, 11 Agustus 2020

Penyakitku...

Akhir-akhir ini aku mulai sadar. Ternyata penyakitku semakin parah. Kukembalikan kepingan memori-memori yang ada pada ingatanku, dan pertanyaan yang sering datang dan memenuhi kepalaku adalah kapankah penyakit ini muncul. September 2016, mungkin ini adalah jawabannya. Tugas akhir atau sering disebut dengan skripsi, adalah faktor pertama penyakitku muncul. Ide-ide dalam menulis karya ilmiah atau tugas ini memkasa otakku berkembang, berfikir terus menerus tanpa jeda. “jika ku tambahkan ini, akan menjadi apa ya?” “ah... apa harus kutambahkan ini, terus efeknya gimana ya?”. Rencana A, penyelesaian A, Rencana B, penyelesaian B dan seterusnya selalu muncul di kepalaku. Kufikir aku adalah orang yang jenius. Bisa membuat rencana-rencana kedepan yang akan membuat salah satu perusahaan berkembang dan maju dari ide-ide cemerlangku. Ah, ternyata cuma khayalanku.

Setelah aku lulus, penyakitku bertambah parah. Setiap hari memikirkan apa yang akan aku lakukan selanjutnya. Dan yang kulakukan hanyalah berfikir terus menerus tanpa ada hasil. Suatu hari, kutemukan sebuah platform yang membuatku sangat berbahagia. Bisa mengenal seseorang dan mendiskusikan ideku dan idenya dalam suatu obrolan. Sampai suatu waktu, aku meminta tolong untuk disembuhkan tanpa berbicara ingin disembuhkan, tapi herannya, ia memahami permintaanku.

Penyakit ini, bukanlah penyakit yang serius yang perlu dibawa ke dokter atau dirawat inap. Tetapi, kalo terus menerus begini, ini bakal sangat parah dan menganggu fisik. Padahal sebelumnya yang sakit bukan fisik. Seiringnya waktu, penyakit ini mulai sembuh, jarang kambuh. Dan semua ini, karena ia.  Apakah obat adalah panggilan yang tepat untuknya? iya.. untuknya yang berhasil menyamarkan penyakit ini.

Share:

Puan Elusif

Jangan tanya aku siapa. Aku bukanlah seseorang yang jago dalam menulis. Aku hanya seseorang yang ingin menulis, karena itu adalah hobiku.